Diffusion of Innovations

  • November 9, 2019

Diffusion of Innovations

Diffusion of Innovations

Dalam Pengantar buku (edisi ketiga) Diffusion of Innovations, The Free Press, N.Y., Rogers, Everet M. (1983), penulisnya, menjelaskan bahwa edisi pertama terbit tahun 1962 dan edisi kedua (dengan judul Communication of Innovations: A Cross-Cultural Approach dan dengan penulis kedua F.Floyd Shoemaker) terbit pada tahun 1972.

Dalam Pengantar tersebut disajikan (a) kesamaan difusi dengan riset persuasi: (a1) bukan komunikasi satu kepada orang banyak, tapi sesuatu yang dikerjakan bersama orang lain, dan (a2) tidak semata berpusat pada aksi atau isu (menjual produk, aksi atau kebijakan), tapi juga menjual kredibilitas diri dan/atau orang lain; (b) kontras difusi (fokus lebih pada adopsi/ keputusan untuk menggunakan dan mengimplementasikan gagasan baru, bukan pada implementasi aktual atau konsekuensi inovasi) dengan riset persuasi (fokus lebih pada pengubahan sikap, bukan perilaku); (c) pergeseran studi difusi dari yang mendasarkan pada model komunikasi linier (proses di mana pesan ditransfer dari sumber ke penerima) ke yang mendasarkan pada model komunikasi konvergensi (proses saling tukar informasi diantara sesama partisipan) dan (d) definisi inovasi difusi sebagai pada dasarnya suatu proses sosial di mana informasi tentang gagasan baru yang dipersepsi secara subjektif dikomunikasikan.

Pembahasan pada bab 1 sampai dengan bab 11 masing-masing diberi judul (1) Unsur-unsur Difusi, (2) Sejarah Riset Difusi, (3) Kontribusi dan Kritik riset Difusi, (4) Lahirnya Inovasi, (5) Proses Keputusan Inovasi, (6) Atribut Inovasi dan Tingkat Adopsinya, (7) Kategori Keinovatifan dan Kategori Adopter, (8) Kepemimpinan Opini dan Network Difusi, (9) Agen Perubahan, (10) Inovasi dalam Organisasi dan (11) Konsekuensi-konsekuensi Inovasi.

Bab 1 membahas empat unsur inovasi: (a) inovasi (b) saluran komunikasi, (c) waktu dan (d) sistem sosial. Inovasi -sering disinonimkan dengan teknologi- suatu gagasan, praktek atau objek yang dipersepsi baru oleh seorang individu atau suatu unit adopterInovasi dibedakan dari reinvensi: tingkat inovasi diubah atau dimodifikasi pengguna pada proses adopsi dan implementasiInovasi sering berupa cluster teknologi karena dengan demikian akan lebih mudah untuk diadopsi.  Bab 1 selanjutnya meringkas materi yang akan dibahas pada bab 4 sampai dengan bab 11.

Bab 2 diawali dengan komentar Elihu Katz dkk. (1963) ‘berbagai tradisi riset ironisnya ditemukan secara sendiri-sendiri’. Tradisi riset adalah sederet penelitian tentang topik sejenis di mana penelitian sebelumnya berpengaruh pada penelitian sesudahnya. Tradisi riset pada dasarnya adalah suatu ‘universitas tidak terlihat’. Riset difusi dimulai di Perancis, Inggris dan Jerman-Austria di awal abad 20. Di Perancis, Tarde (1903) mengemukakan hukum imitasi ‘dari 100 inovasi, 10 akan menyebar luas sementara 90 akan dilupakan’. Selanjutnya disajikan sembilan tradisi riset: antropologi, sosiologi awal, sosiologi pedesaan, pendidikan, sosiologi medis, komunikasi, pemasaran, geografi dan sosiologi umum. Akhirnya, disajikan delapan tipe riset difusi (1) kapan inovasi diketahui, (2) tingkat adopsi inovasi, (3) keinovatifan, (4) kepemimpinan opini, (5) jaringan difusi, (6) tingkat adopsi dalam berbagai sistem sosial, (7) saluran komunikasi dan (8) konsekuensi inovasi.

Bab 3 menyajikan kontribusi riset difusi berupa (a) model difusi sebagai paradigma konseptual yang relevan dengan banyak disiplin ilmu, (b) sifat pragmatisnya dalam memecahkan masalah penggunaan hasil riset, (c) memungkinkan periset mengemas ulang temuan empirisinya dalam bentuk generalisasi lebih teoritis lagi dan (d) metodologinya yang jelas dan relatif facile. Selanjutnya,disajikan kritik pada riset difusi: (a) bias pro-inovasi: inovasi harus diadopsi semua anggota suatu sistem sosial dengan cara cepat dan inovasi tidak boleh ditolak atau direinvensi, (b) bias menyalahkan individu: kecenderungan menyalahkan individu, bukan sistem, (c) masalah ingatan: ketidakakuratan responden dalam mengingat proses adopsi inovasi dan (d) isu ekualitas: inovasi cenderung memperlebar kesenjangan kaya-miskin. Akhirnya, disajikan prosedur meta-riset, yaitu sintesis riset empiris menjadi kesimpulan umum yang lebih teoritis: (a) perumusan konsep (dimensi yang dinyatakan dalam istilah paling mendasar), (b) menyusun hubungan dua konsep dalam bentuk hipotesis teoritis, (c) menguji hipotesis teoritis dengan hipotesis empiris yang dinyatakan dalam postulat hubungan dua konsep operasional, (d) uji hipotesis empiris dengan uji signifikansi atau uji lainnya dan (e) hipotesis teoritis ditolak atau diterima berdasarkan ditolak atau diterimanya hipotesis empiris.

Baca Juga :

Makna Baru Perubahan Pendidikan

  • November 9, 2019

Makna Baru Perubahan Pendidikan

Makna Baru Perubahan Pendidikan

Buku ini membahas tentang makna (baru) perubahan pendidikan dalam tiga bagian dan enam belas bab. Judul ketiga bagian tersebut adalah (I) Memahami Perubahan Pendidikan, (II) Perubahan Pendidikan pada Tingkat Lokal dan (III) Perubahan Pendidikan pada Tingkat Regional dan Nasional. Adapun judul-judul keenambelas bab tersebut adalah: (1) Tujuan dan Sistematika Buku, (2) Sumber-Sumber Perubahan Pendidikan, (3) Makna Perubahan Pendidikan, (4) Sebab dan Proses Inisiasi, (5) Sebab/Proses Implementasi dan Kontinuasi, (6) Merencanakan, Melaksanakan dan Menangani Perubahan, (7) Guru, (8) Kepala Sekolah, (9) Siswa, (10) Administratur Distrik, (11) Konsultan, (12) Orang Tua dan Komunitas, (13) Pemerintah, (14) Persiapan peofesional Guru, (15) Pengembangan Profesional Pendidik dan (15) Masa Depan Perubahan Pendidikan.

Berikut adalah substansi tiap bab dimaksud.

Bab 1 membahas tujuan dan sistematika buku. Bab 2 menyajikan tiga sumber perubahan pendidikan yaitu: (a) bencana alam, (b) pengaruh faktor luar dan (c) kontradiksi internal.

Dikatakan bahwa perubahan pendidikan pada tahun 1960-an dan reformasi berbasis kompetensi 1980an yang mencoba ‘to legislate learning’ adalah tipe IV. Selanjutnya, dicatat opportunisme dalam perubahan pendidikan ‘sebagai ”ara murah” untuk menyelesaikan tekanan birokratis atau politis…agar distrik nampak up-to-date dan progresif di mata masyarakat atau untuk “melakukan sesuatu” untuk suatu kelompok tertentu’ (Berman dan McLaughlin, 1978). Atau, inovasi masih dilihat sebagai alat sekelompok orang untuk mengontrol kehidupan orang lain dan anak-anaknya menurut konsepsinya sendiri (Whiteside, 1978). Inovasi gagal menyentuh hal pokok yang dituju perubahan pendidik-an: ‘Buat apa pendidikan sebenarnya? Manusia dan masyarakat seperti apa yang diinginkan? Metode dan organisasi kelas serta bahan ajar apa yang diperlukan? Pengetahuan mana yang paling berharga? (Silberman, 1970). Perubahan pendidikan menyentuh hanya perubahan tingkat pertama, yaitu: perubahan untuk memperbaiki efisiensi dan efektivitas aktivitas yang dilakukan sekarang tanpa ‘mengubah fitur organisasional dasar, tanpa mengubah secara substantif cara siswa dan pendidikan menjalankan peran mereka’ (Cuban 1988). Perubahan tingkat kedua –dimana cara fundamental seperti tujuan, struktur dan peran baru diubah menjadi, misal, berorientasi pada kultur kerja kolaboratif- tidak tersentuh: menurut peribahasa Cina, ‘bahan berubah, tapi supnya tetap sama’ (ibid.).

Bab 3 membahas makna perubahan secara umum, subjektif dan objektif serta implikasinya. Dalam makna secara umum ditemukan bahwa ‘tiap upaya untuk pre-empt konflik, argumen atau protes dengan perencanaan rasional… seberapa rasionalnya pun … tetap harus memberi waktu untuk impuls penolakan. Reformer telah mengasimilasi perubahan mungkin berbulan-bulan atau bertahun-tahun Jika mereka mengingkari orang lain kesempatan waktu setara, mereka pada dasarnya memperlakukan orang lain seperti boneka yang dapat diatur sesuai kehendaknya (Marris, 1975). Dalam makna subjektif ditemukan, tekanan kelas bagi guru ‘tekanan segera dan kongkrit, sekitar 200.000 pertemuan per tahunnya; tekanan multidimensionalitas dan simultanitas; adaptasi kondisi selalu berubah atau unpredictability dan tekanan untuk terlibat dengan siswa’ (Huberman, 1983; Crandall et. al., 1982). Inovasi adalah acts of faith. Mereka harus percaya inovasi akan berhasil dan berguna, meski hasil segera tidak terlihat (House, 1974). Dalam makna objektif dinyatakan tiga komponen program atau kebijakan: (a) materi baru atau revisi, (b) pendekatan pembelajaran dan (c) kepercayaan (misal, asumsi dan teori yang melandasi suatu program atau kebijakan). Tentang implikasi perubahan pendidikan dikatakan ada enam aspek yang dapat diamati (a) the soundness dari perubahan yang diusulkan, (b) memahami kegagalan perubahan yang direncanakan dengan baik, (c) petunjuk untuk memahami hakekat dan feasibilitas suatu perubahan, (d) realitas status-quo, (e) kedalaman perubahan dan (e) pertanyaan tentang penilaian.

Bab 4 mencatat bahwa tekanan untuk perubahan menurun saat adopsi yang diikuti dengan implementasi (Berman dan mcLaughlin, 1979). Model perubahan mempunyai empat komponen (a) inisiasi, mobilisasi atau adopsi, (b) implementasi (biasanya 2-3 tahun pertama sejak adopsi), (c) kontinuasi, inkorporasi, rutinisasi atau institusionalisasi dan (d) outcome. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inisiasi adalah (a) keberada-an dan kualitas inovasi, (b) akses pada informasi, (c) advokasi dari atas(an), (d) advokasi guru, (e) agen perubah eksternal, (f) tekanan, dukungan atau apati masyarakat, (g) sumber dana: lokal, negara bagian atau federal, (h) orientasi birokratis dan pemecahan masalah. Akhirnya, konsiderasi dalam perencanaan untuk adopsi paling baik jika mengkombinasikan 3R: (a) Relevansi: dilihat dari praktikalitas dan kebutuhan, (b) Readiness: tergantung pada kapasitas dan kebutuhan dan (c) Resources/ketersediaan dukungan.

Bab 5 menyajikan tiga kategori faktor dalam proses implementasi (1) karakteristik proyek inovasi atau perubahan: kebutuhan, kejelasan, kompleksitas dan kualitas/praktikalitas, (2) Karakteristik atau peranan lokal: distrik, komunitas, kepala sekolah, guru, dan (3) faktor eksternal: pemerintah dan agensi lainnya.Tema-tema dalam proses implementasi adalah (a) membangun visi, (b) perencanaan evolusioner, (c) pengambilan inisiatif dan pemberdayaan, (d) pengembangan staf dan asistensi sumber daya, (e) monitoring/pemecahan masalah[1dan (f) restrukturisasi. Selanjutnya, ada empat tilikan tidak predictable yang ternyata penting dalam proses implementasi: (a) inisiasi dan partisipasi aktif, starting small and thinking big, bias untuk tindakan dan belajar sambil bekerja, (b) tekanan dan dukungan, (c) perubahan perilaku dan kepercayaan dan (d) masalah kepemilikan perubahan pendidikan.

Dalam Bab 6 disajikan alasan mengapa perencanaan perubahan gagal: asumsi dan cara berpikir keliru tentang perubahan, diantaranya, ‘melompat’ dari rencana pribadi ke implementasi publik (Lighthall, 1973), kekuasaan legal atau organisasional diandalkan sebagai motor perubahan (Sarason, 1971) dan fallacy rasionalisme: dunia social ingin diubah dengan argumen rasional. Alasan lain mengapa perencanaan gagal ialah menangani masalah tidak terpecahkan, karena beda nilai yang dianut dan kesempurnaan teknis serta tidak memperhitungkan faktor yang berpengaruh. Untuk sukses menurut harry Truman dan Pierre Trudeau ‘we need more one-armed economist…[when frus-trated by the advice] on the one hand … on the other hand’. Niat baik dan gagasan baik adalah perlu tapi tidak cukup untuk tindakan yang konsisten (Sarason, 1990). Kiat lain ialah (a) ‘sedikit kekaburan mungkin esensial agar kebijakan dapat diterima…mungkin lebih efektif dalam waktu pendek untuk berkonsentrasi pada legislasi baru’, dan (b) menggunakan pendekatan developmental: mulai dari hal yang paling mungkin terus berkembang ke hal-hal lain (Sarason, 1971).

Ruang Lingkup Pendidikan Umum

  • November 9, 2019

Ruang Lingkup Pendidikan Umum

  • Ruang Lingkup Pendidikan Umum

    Seminar Pendidikan Umum yang dilaksanakan pada tanggal 14 – 15 Desember 1998, dengan Tema ”Pencarian Body of Knowledge Pendidikan Umum” merupakan suatu upaya untuk mempertegas kembali pentingnya Pendidikan Umum dalam proses pendidikan pada umumnya dalam konteks : (1) Pendidikan Nilai; (2) Pendidikan Kepribadian; (3) Program Studi ; (4) Mata Pelajaran MKDU; (5) Pengembangan Kepribadian Utuh; (6) Warga Negara yang Baik; dan (7) Pengembangan Sikap Ilmiah Dari gagasan yang muncul dalam seminar dirumuskan sebagai berikut :

    1. Dalam memahami Pendidikan Umum, yang pertama kali harus dibedakan adalah : pada konteks pendidikan umum manakah kita akan memahaminya. Cara memilah pendidikan umum dapat dilakukan kedalam tiga kategori, yaitu: (a) Pendidikan umum sebagai Ilmu; (b) Pendidikan umum sebagai program pendidikan (MKDU); dan (c) Pendidikan umum sebagai program studi, seperti di PPS UPI. Dari ketiga dimensi pendidikan umum dapat dikaji visi atau makna, misi dan tujuan, prinsip, struktur, isi atau muatan kurikulum dan pendekatan yang digunakan
    2. Pendidikan umum sebagai ilmu, program pendidikan dan program studi meliputi dua bidang kajian inti yang membedakannya, dari bidang kajian ini, yaitu : (1) Pendidikan nilai dan (2) pendidikan kepribadian.
    3. Memahami Pendidikan Umum sebagai Program pendidikan dan Program Studi dapat dilakukan dengan cara merinci tujuan, materi, metode, dan evaluasi pendidikan yang dikembangkan menjadi suatu sistem terpadu, baik dari sudut pandang agama maupun budaya. Dalam pengertian seperti itu, Pendidikan Umum harus sampai pada wilayah aksi atau tindakan yang memberi makna besar bagi peserta didik.
    4. Memahami Pendidikan Umum dapat dimulai dari pengkajian definisi yang positif tentang Pendidikan Umum, yang kemudian dapat dikomparasikan antara satu dengan yang lainnya. Langkah berikutnya adalah menjabarkan definisi tersebut kedalam definisi operasional yang lebih memberikan kejelasan dan batasan tertentu tentang Pendidikan Umum. Proses derivasi definisi kedalam definisi operasional, sangat berguna dalam upaya penelitian tentang Pendidikan Umum, sehingga tekanan penelitian dapat berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya dan tetap berada dalam koridor garapan Pendidikan Umum.
    5. secara historis, awal pendirian Program Studi Pendidikan Umum, di PPS IKIP sebenarnya sederhana, yaitu untuk menyiapkan dosen-dosen MKDU di Perguruan Tinggi. Dosen-dosen yang dipanggil bermacam-mcam keahliannya; ada ekonom, ahli agama, budayawan, sehingga berkembang kemudian disusun matakuliah yang terkesan ”aneh” seperti Ekonomi dan Pendidikan Umum Pancasila dalam Pendidikan Umum, IPA dalam Pendidikan Umum, dan Agama dalam Pendidikan Umum. Satu tahun lamanya tidak pernah ada yang menghiraukan matakuliah Agama dalam Pendidikan Umum, tetapi setelah itu dihilangkan dan diganti dengan matakuliah Nilai-nilai Agama sebagai Landasan Pendidikan Umum (diajarkan di S.3).
    6. Menurut sudut pandang Islam tujuan pendidikan umum itu mencakup tiga tujuan mulia, yaitu untuk mencapai manusia memiliki karakterisktik : (a) Hilmun, yaitu kesanggupan atau kemampuan untuk menolak argumentasi orang bodoh dengan bahasa yang santun; (b) Woro’, yaitu tidak rakus, rendah hati, yang mampu membentangi dirinya dari perbuatan maksiat; (c) Husnul khuluq, yakni berakhlaq baik sehingga ia bisa hidup di antara manusia.
    7. Adalah suatu keharusan bagi para ilmuwan Pendidikan Umum untuk memahami gejolak nilai yang terjadi dalam kehidupan. Mereka tidak boleh hanyut dalam pergumulan nilai (war of values). Mereka harus mampu menempatkan diri untuk ikut menata, membina, mengembangkan dan ikut mengendalikan nilai-nilai baik yang berkembang dalam masyarakat. Oleh karena itu, keahlian yang paling utama dan terpenting bagi ahli Pendidikan Umum adalah memahami dan mampu mengemban misi dalam mengembangkan kepribadian utuh dengan cara memupuk qolbu agar peserta didik memiliki keteguhan hati.
    8. Perumusan batang tubuh pendidikan umum dapat dilakukan dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda antara penggagas yang satu dengan yang lainnya, seperti halnya dapat dilakukan melalui :
    • Pencarian proses dan karakteristik pendidikan umum secara random, sementara ini dirumuskan dalam tujuh karakteristik pendidikan umum : (1) ide vital pendidikan umum adalah learning termasuk pada agama; (2) kognitif, afektif dan psikomotorik, (3) penerapan ilmu pendidikan dan psikologi dalam bidang studi; (4) Pendidikan umum cenderung melakukan integrated knowledge system yang sama dengan pengorganisasian trans. Disiplin; (5) Pendidikan umum sebagai problem solving lintas disiplin, dan (7) Pendidikan umum harus bisa membuat streotype berfikir dalam beberapa disiplin ilmu dan harus confident (percaya diri).
    • Melalui ilustrasi pohon pendidikan umum. Cara berikutnya adalah melalui ilustrasi pohon pendidikan umum, yang memuat dan memposisikan ilmu pada kedudukannya dalam Pendidikan Umum. Cara ini tentu saja tidak dapat dilakukan apabila tidak dibekali dengan pemahaman yang luas tentang kedalam kajian disiplin-disiplin ilmu.
    • Melalui suatu pengkajian dengan menggunakan kerangka filosofis yang memuat tiga konsep utama yaitu : metafisika, epitemologi dan aksiologi. Metafisika berkenaan dengan antropologi, kosmologi dan ontologi. Pada konsep tersebut, harus ditemukan apa obyek materia dan oyek forma Pendidikan Umum. Epistemologi berkenaan dengan bagaimana cara menimba pengetahuan dalam Pendidikan Umum, prosesnya, dan faktor pendukungnya, agar memperoleh pengetahuan tentang Pendidikan Umum yang benar dan menemukan tentang hakikat kebenaran dan kriterianya. Aksiologi berkenaan dengan menemukan kegunaan ilmu pengetahuan dalam Pendidikan Umum, hubungan antara sistem penggunaannya dengan norma dan moral, serta hubungan antara teknik operasinal metode ilmiah Pendidikan Umum dengan norma profesional. Dari perspektif tersebut Pendidikan Umum dapat dikaji dan diisi sehingga ”bentuk” body of knowledge-nya dapat dirumuskan.

Melalui proses rekonstruksi Pendidikan Umum berdasarkan ”ciri-ciri disiplin ilmu”, sehingga dapat ditemukan ilmu pendidikan dari Pendidikan Umum (Educology of General Education), dan struktur formal disiplin Pendidikan Umum diantara disiplin ilmu lainnya. Melalui cara ini, kajian tentang batang tubuh Pendidikan Umum dapat sampai pada suatu pengkajian tentang muatan dan alur Pendidikan Umum sebagai disiplin ilmu. Model pendekatan yang ditawarkan, dapat dilihat dalam makalah-makalah pada bab tentang Pendidikan Umum sebagai Ilmu

1.478 Siswa SD Kota Bogor Dapat PIP 2017

  • November 7, 2019

1.478 Siswa SD Kota Bogor Dapat PIP 2017

1.478 Siswa SD Kota Bogor Dapat PIP 2017

– Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, percepat pencairan dana Program Indonesia Pintar

(PIP) Tahun 2017, senin kemarin. Terlebih, batas waktu yang diberikan khususnya, tingkat sekolah dasar adalah akhir November 2017, salah satu Bank milik pemerintah yang telah ditunjuk.

“Alhamdulillah, untuk gugus inti SDN Bantarjati 5, para penerima PIP bersama orangtuanya melakukan pendataan dan transaksi dengan BRI,” ujar Ketua Gugus Inti Solihin kepada Metropolitan, kemarin.

Menurutnya, sekolah penerima PIP yang ada di gugusnya, terdiri dari SDN Bantarjati 5

sebanyak 44 siswa, SDN Bantarjati 6, 82 siswa, SDN Bantarjati 9, 37 siswa, SDN Ceger 2, 52 siswa dan SDN Bogor Baru sekitar 92 siswa.

“Besaran dana yang akan diterima sekitar Rp450 ribu per siswa. Saya berharap bantuan dari PIP ini benar-benar dipergunakan untuk kebutuhan sekolah. Jangan dipergunakan untuk kebutuhan lain, selain untuk sekolah anak,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Kesiswaan SD, Disdik Kota Bogor, Lisye menjelaskan

, berdasarkan data siswa penerima percepatan pencairan 2017 di Kota Bogor ini sekitar 1.478 orang siswa.
“Mereka berasal dari 21 SD yang ada di 4 Kecamatan Bogor Utara, Tanahsareal, Bogor Selatan dan Kecamatan Bogor Tengah,” bebernya.

 

Baca Juga :

Guru SDN Sindangsari Bakal Awasi Siswa Lebih Ketat

  • November 7, 2019

Guru SDN Sindangsari Bakal Awasi Siswa Lebih Ketat

Guru SDN Sindangsari Bakal Awasi Siswa Lebih Ketat

Warga SDN Sindangsari Kota Bogor, siap mengantisipasi dan mencegah terjadinya

tindak kekerasan terhadap anak di bawah umur, khususnya peserta didik di sekolah yang berlokasi di Jalan Pengeran Asogiri, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara ini. “Alhamdulillah sejak saya bertugas sebagai kepala sekolah di sekolah ini, tidak pernah terjadi tindak kekerasan, baik itu di luar maupun di dalam lingkungan sekolah. Karena jauh-jauh hari saya telah mengingatkan dan menginstruksikan kepada guru-guru yang ada di sekolah ini supaya ramah terhadap siswa-siswinya,” ujar Kepala SDN Sindangsari, Sumiarti, kepada Metropolitan.

Tidak hanya guru, menurut Sumiarti, para orangtua siswa juga telah dihimbau agar selalu ramah

terhadap anak-anaknya. Karena, tanggungjawab pendidikan tidak semata di sekolah saja. Tapi teranan orangtua juga sangat menentukan terwujudnya tujuan pendidikan, khususnya di sekolah ini. Selain itu, untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang baik dan kondusif. “Di sekolah ini, peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara,” terangnya.

Ia juga menjelaskan, pendidikan karakter juga terus dikembangkan di sekolah ini. Sehingga,

dapat mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Seperti, meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain.

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/ZnZl/history-of-heroes-day-10-november-1945

Ade Ingatkan Pentingnya Janji Pramuka Indonesia

  • November 7, 2019

Ade Ingatkan Pentingnya Janji Pramuka Indonesia

Ade Ingatkan Pentingnya Janji Pramuka Indonesia

Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Bogor, Ade Sarip Hidayat

, menga­jak anggota pramuka mengamalkan Dasa Darma dan Tri Satya Pramuka dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, ia meminta anggota pramuka sel­alu mengingat kembali jasa-jasa pahla­wan, khususnya pendiri pramuka.

“Marilah kita pegang sang merah pu­tih di pundak kita agar selama jantung kita berdetak,

kita selalu ingat untuk melaksanakan janji pramuka Indonesia,” kata Ade usai memimpin upacara ulang janji pramuka di Sekolah Taruna An­digha Bogor, Sabtu (11/8) malam.

Menurut dia, ulang janji pramuka mer­upakan bentuk evaluasi terhadap karya yang sudah

dilakukan pramuka selama satu tahun. Lalu di ulang janjinya melalui Tri Satya Pramuka yakni janji patriot ang­gota pramuka. “Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjanji akan mewujud­kan pembangunan dalam membantu masyarakat dan menolong sesama, ter­masuk melaksanakan Dasa Dharma Pramuka,” katanya. Ia menambahkan, anggota pramuka yang mengulang jan­jinya harus tetap setia kepada NKRI, setia kepada negara melalui abdi-abdinya di pramuka. ”Janji ulang pramuka itu tidak sekadar seremonial dan janji secara lisan, tapi harus tertanam dalam kalbu setiap anggota pramuka,” imbuhnya.

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/dNlz/history-of-the-origin-of-the-stone-black-stone

Hak Cipta Terhadap Produk IT

  • November 1, 2019

Hak Cipta Terhadap Produk IT

 

 

Di dalam perjanjian universal copyright, setiap negara anggota memberikan perlindungan yang sama untuk bekerja (baik dipublikasikan atau tidak) dari warga negara lain, untuk setiap karya yang dibuat, untuk setiap anggota negara lain seperti hibah kepada warga negara untuk hak karya yang diterbitkan di wilayahnya atau karya yang belum dibuat di dalam wilayahnya. Hal ini disebut  “national treatment.” Dengan demikian, perangkat lunak yang dibuat oleh penulis AS atau pertama kali diterbitkan di Amerika Serikat dilindungi di negara anggota konvensi yang menerapkan undang-undang hak cipta ini.

Universal Copyright menyatakan bahwa negara anggota manapun yang memerlukan, sebagai syarat untuk perlindungan hak cipta, sesuai dengan formalitas (seperti pendaftaran, deposito atau pemberitahuan) harus memberlakukan formalitas sepert untuk semua salinan penerbitan karya harus menggunajan simbol “©,” dengan diikuti nama pemilik hak cipta dan tahun publikasi pertama.

Ketentuan ini berlaku, tetapi, hanya untuk karya-karya yang (i) pertama kali diumumkan di luar negeri yang membutuhkan ketaatan dari formalitas, dan (ii) tidak ditulis oleh salah satu warga negara itu. Berbeda dengan Berne, formalitas seperti pendaftaran diizinkan di bawah UCC untuk membawa setelan pelanggaran.

Sumber : https://fleshlightvibroreview.com/

Hak Cipta Terhadap Produk IT

Keterbatasan UU No. 36 telekomunikasi

  • November 1, 2019

Keterbatasan UU No. 36 telekomunikasi

 

Keterbatasan UU No. 36 telekomunikasi

Berkembangnya teknologi di dalam bidang telekomunikasi memberikan dampak yang cukup signifikan di dalam tatanan kenegaraan. Berdasarkan isi dari Undang-Undang No. 36  mengenai Telekomunikasi pasal 1 ayat 1, menyatakan bahwa “Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk tanda2, isyarat, tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui sistem kawat, optik, radio, atau sistem elektromagnetik lainnya”.

Dari pernyataan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa media internet pun termasuk ke dalam alat komunikasi yang dimaksud. Segala macam bentuk penyalahgunaan dalam penggunaan alat  telekomunikasi yang disebut dalam undang-undang telah diatur dalam beragam pasal sesuai dengan jenis penyalahgunaannya masing-masing. Pihak yang melakukan penyalahgunaan akan dijerat dengan hukum pindana dengan hukuman terberat 15 tahun penjara dan dengan sebesar 600 juta rupiah.

Oleh sebab itu, pendapat saya mengengenai UU tersebut, dengan ketentuan pidana yang begitu berat, penggunaan teknologi dapat dibatasi agar tidak merugikan pihak lain. Kesimpulannya adalah tidak terdapat keterbatasan dalam Undang-Undang No 36 tentang telekomunikasi selama pihak yang menggunakan Undang-Undang  mengerti  dan memahami secara penuh isi dari UU tersebut. Sehingga tujuan awal dari UU untuk melindungi hak orang lain tidak berbalik merugikan.

Sumber : https://sam-worthington.net/

HUT Ke-22 Gudep SMPN 13 Ranggamekar Jaga Kekompakan

  • October 28, 2019

HUT Ke-22 Gudep SMPN 13 Ranggamekar Jaga Kekompakan

HUT Ke-22 Gudep SMPN 13 Ranggamekar Jaga Kekompakan

SMPN 13 Kelurahan Rangga­mekar Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor kemarin merayakan HUT ke-22 Gugus

Depan (Gudep) dengan mengambil tema ’Berkahi Umur Tumbuh Silaturahmi Dipegang Teguh’.

Pembina Gudep Smpn 13 Pur Han­doko meminta kepada seluruh ang­gota Pramuka agar kegiatan Hut Gu­dep ke 22 ini dijadikan momentum baik dalam meningkatkan prestasi pramuka SMPN 13.

Yakni, dengan terus menggali segala potensi agar bisa meraih prestasi yang membang­gakan baik

bagi sekolah maupun diri sendiri dan orangtua. Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah agar seluruh anggota Pramuka Gudep SMPN 13 selalu menjaga kekompakan dan tunjukan Prestasi. ”Hanya dengan kekompakan antar anggota pramuka maka seluruh prestasi bisa diraih dengan sempurna. ”ujarnya

Sementara itu Pembina Pramuka SMPN 13 Samsul Ramli mengatakan pihaknya sangat bersyukur

dengan para anggota Gudep Smpn 13 pasal­nya selama 22 tahun seluruh anggota Pramuka baik pembina dan peng­galang bisa menjaga kekompakan dan tali silaturahmi yang sangat erat se­hingga bisa kembali merayakan HUT Gudep yang ke 22 dengan lancar dan aman.

”Alhamdulilah acara ini berjalan lancar dan semoga kedepannya akan lebih baik lagi demi kemajuan pramu­ka Gudep Smpn 13.”harapnya.

 

Baca Juga :

Unida Bogor Bangun Kerja Sama Dengan Pemuda Pelopor Tingkatkan Potensi Pemuda Dan Mahasiswa Di Kabupaten Bogor

  • October 28, 2019

Unida Bogor Bangun Kerja Sama Dengan Pemuda Pelopor Tingkatkan Potensi Pemuda Dan Mahasiswa Di Kabupaten Bogor

Unida Bogor Bangun Kerja Sama Dengan Pemuda Pelopor Tingkatkan Potensi Pemuda Dan Mahasiswa Di Kabupaten Bogor

Berbagai cara dilakukan untuk menggenjot potensi kaum muda. Salah satunya seperti

yang dilakukan Forum Pemuda Pelopor Kabupaten Bogor bersama Universitas Djuanda (Unida) Bogor.

Mereka menandatan­gani nota kerjasama untuk pengembangan potensi pe­muda dan mahasiswa di Kabupaten Bogor dalam rangkaian kegiatan Festival Pemuda Pelopor yang digelar di Kampus Unida Bogor sejak 23-25 Oktober, kemarin.

Ketua Forum Pemuda Pelopor Ka­bupaten Bogor Egi Gunadhi Wibhawa mengatakan,

kerjasama ini diharapkan menjadi embrio untuk terbangunnya sinergi Antara Forum Pemuda Pelopor dengan pihak kampus di Kabupaten Bogor. Sehingga, mereka bisa bersama-sama membangun semangat kepelo­poran pemuda. Menurut Egi, kepelo­poran harus ditanamkan secara luas kepada generasi muda yang akan meneruskan estafet kepemimpinan di masa yang akan datang.

“Mudah-mudahan kegiatan ini menginspirasi, menularkan seman­gat kepeloporan generasi muda,

” ujar Egi di sela pembukaan festival pe­muda pelopor.

Egi menilai, Unida banyak mence­tak generasi yang memiliki seman­gat kepeloporan. Para penerima penghargaan pemuda pelopor juga diakuinya banyak yang berasal dari almamater kampus tersebut. “Kami juga berharap mahasiswa yang nanti­nya lulus ini, lebih banyak yang mengambil peran untuk menjadi pelopor membangun desa dan dae­rahnya,” harapnya.

Senada, Rektor Unida Bogor, Dede Kardaya mengaku spirit kepeloporan dari pemuda sangat besar manfaat­nya untuk membangun bangsa

 

Sumber :

https://rollingstone.co.id/