Dosen Pembimbing

  • December 26, 2019

Table of Contents

Dosen Pembimbing

Dosen Pembimbing
Dosen Pembimbing

Sudah 2 Tahun aku meninggalkan kampus dan para mahasiswa untuk meneruskan studi S3ku di Jerman. Saat sedang aktif menjadi dosen seringkali tidak sadar betapa penting peran pembimbing dalam skripsi. Saat berperan lagi jadi mahasiswa baru terasa arti penting seorang pembimbing. Kebetulan pembimbing utamaku seorang yang sangat baik, tapi sebagai direktur institut beliau menugaskan pembimbing kedua sebagai pembimbing langsung yang bertanggung jawab atas disertasiku. Peran pembimbing kedua yang memonitor pekerjaan kita sehari-hari ini sangat vital.

Selama dua tahun aku mendapatkan pembimbing kedua yang kurang memberi dukungan pada mahasiswanya. Aku sendiri adalah mahasiswa yang cukup aktif karena sadar bahwa beasiswaku cuma 3 tahun. Setiap dua minggu sekali aku memberikan laporan pada pembimbingku ini, tapi tidak ada feedback yang aku dapatkan. Walaupun aku sudah membimbing ratusan mahasiswa untuk lulus S1 tapi ternyata bekerja sendiri tanpa umpan balik dari pembimbing adalah hal yang sulit. Untung saja aku memanfaatkan waktu selama dua tahun tersebut dengan mempelajari state of the art pada bidang penelitianku, mencoba memahaminya dan mencobanya dengan membuat beberapa perangkat lunak maupun experimen. Walaupun tanpa arahan, aku berpikir bahwa tidak ada salahnya aku bekerja keras di bidang ini dan suatu saat akan bermanfaat.

Saat dua tahun genap aku menempuh studi S3, pembimbing langsungku mengundurkan diri dari universitas tempatku belajar. Situasi seperti ini sering membuat mahasiswa S3 stress dan bingung apa yang akan dilakukan. Antara tetap kuliah ditempat itu atau mengikuti pembimbing langsungnya pindah. Selama seminggu aku bingung apa yang harus aku lakukan. Setelah aku pikirkan bahwa tidak banyak yang aku dapatkan dari pembimbing langsungku maka aku putuskan untuk tetap di institutku. Mengikuti pembimbing yang kurang mensupport mahasiwanya adalah opsi yang tidak tepat.

Setelah kehilangan pembimbing langsung yang seharusnya merupakan musibah, ternyata hal ini adalah hal yang lebih baek untukku. Aku mendapatkan pembimbing pengganti yang sangat baik dan sangat peduli pada mahasiswanya. Beliau minimal seminggu sekali menanyakan progres pekerjaanku, bahkan seringnya hampir tiap hari beliau menanyakan. Orangnya baek, apa adanya, dan senang bercanda. Aku merasakan seperti ngobrol dengan teman sendiri jadi bisa mengutarakan semua pekerjaanku termasuk kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Walaupun usianya sudah tidak muda lagi, pembimbingku ini tiap hari naek sepeda pulang balik ke kantar yang jaraknya 15 km. Seorang ketua grup yang sederhana dan peduli dengan anak buahnya. Pembimbingku saat mempunyai waktu luang, ikut mengukur di lab denganku. Kebutuhan alat, atau bahan penelitian, konferens, tanpa dimintapun beliau malah menawarkan. Setelah dua tahun studi S3 akhirnya baru mendapatkan pembimbing yang ideal.

Pembimbingku saat membalas ucapan selamat tahun baru 2011 yang aku kirimkan, sambil bercanda menjawab saatnya sekarang aku untuk sprint untuk meraih gelar doktorku. September tahun ini beasiswaku habis, dan aku akan berusaha maksimal untuk lulus tepat waktu. Tidak ada lagi kata seandainya dari awal aku dapat pembimbing beliau, yang ada adalah memanfaatkan waktu tersisa sembilan bulan ini. Berangkat jam 8 pagi pulang jam 8 malam terasa masih kurang. Aku bilang pada pembimbingku, bolehkan aku bekerja sampai larut malam dan tidur sejam dua jam di lab untuk menyelesaikan kerjaanku. Beliau bilang secara ofisial sebenarnya tidak boleh, tapi silahkan saja kalau memang diperlukan. Moga-moga saja saat aku kembali mengajar nanti, aku dapat mencontoh kepedulian dan kebaikan pembimbingku.

Baca Juga :