Paket Verbal dan Nonverbal

  • February 19, 2020

Table of Contents

Paket Verbal dan Nonverbal

Paket Verbal dan Nonverbal

Komunikasi nonverbal juga terpaket dengan pesan verbal yang menyertainya. Bila seseorang menunjukkan rasa marah secara verbal, tubuh dan wajahnya menegang, dahinya berkerut, dan mungkin menunjukkan sikap sial berkelahi. Sekali lagi, kita seringkali tidak memperhatikan hal ini karena ini sepertinya wajar saja. Tetapi bila pesan nonverbal dari sosok atau wajah seseorang bertentangan dengan pesan verbalnya, kita menaruh perhatian khusus. Ambillah contoh, misalnya, seorang yang mengatakan, “Saya sangat senang berjumpa denganmu,” tetapi menghindari kontak mata langsung dan melihat-lihat ke sekelilingnya seakan-akan mencari orang lain. Orang ini mengirimkan pesan yang bertentangan.

6. Dapat dipercaya (Believeable)
Biasanya perilaku verbal dan nonverbal konsisten. Jadi, bila seseorang berdusta secara verbal, maka juga mencoba berdusta secara nonvebal. Namun demikian, baik perilaku verbal maupun nonverbal seseorang seringkali mengkhianati dirinya. Para periset perilaku nonverbal telah mengidentifikasi sejumlah perilaku yang seringkali menyertai penipuan (deception). Umumnya, seorang pembohong kurang banyak bergerak ketimbang orang yang mengatakan yang sebenarnya. Pembohong berbicara lebih lambat dan membuat lebih banyak kesalahan bicara. Indikator terbaik kebohongan. Jangan lupa bahwa baik perilaku nonverbal maupun verbal harus ditafsirkan sebagai bagian dari konteks tempat itu terjadi. Gunakanlah perilaku ini sebagai hipotesis mengenai kebohongan dan bukan sebagai kesimpulan yang kuat.Umumnya, seorang pembohong kurang banyak bergerak ketimbang orang yang mengatakan yang sebenarnya. Pembohong berbicara lebih lambat dan membuat lebih banyak kesalahan bicara. Indikator terbaik kebohongan. Jangan lupa bahwa baik perilaku nonverbal maupun verbal harus ditafsirkan sebagai bagian dari konteks tempat itu terjadi. Gunakanlah perilaku ini sebagai hipotesis mengenai kebohongan dan bukan sebagai kesimpulan yang kuat.

7. Dikendalikan oleh Aturan
Komunikasi nonverbal, seperti halnya komunikasi verbal, dikendalikan oleh aturan (rule-goverbed). Sebagai anak-anak, seseorang belajar kaidah-kaidah kepatutan sebagian besar melalui pengataman perilaku orang dewasa. Sebagai contoh, seseorang mempelajari bagaimana mengutarakan simpati serta aturan-aturan budaya mengenai mengapa, di mana, dan kapan mengutarakan simpati. Seseorang belajar bahwa menyentuh seseorang dibolehkan pada situasi tertentu tetapi tidak dibolehkan dalam situasi yang lain, dan belajar macam sentuhan apa yang boleh dan mana yang tidak.
Beberapa di antara aturan ini, yang dinyatakan lebih secara informal, mengatakan bahwa orang dari status yang lebih rendah tidak boleh mendahului menyentuh orang yang statusnya lebih tinggi, tetapi orang yang statusnya lebih tinggi boleh mendahului menyentuh orang yang statusnya lebih rendah. Aturan lain adalah bahwa kaum wanita boleh saling menyentuh sesamanya di depan umum. Sebagai contoh, mereka boleh saling memegang tangan, berjalan bergandengan tangan, saling berpelukan, dan bahkan berdansa bersama. Kaum pria tidak boleh melakukan ini, setidak‑tidaknya tanpa menghadapi kritik sosial.Seseorang belajar bahwa menyentuh seseorang dibolehkan pada situasi tertentu tetapi tidak dibolehkan dalam situasi yang lain, dan belajar macam sentuhan apa yang boleh dan mana yang tidak.
Beberapa di antara aturan ini, yang dinyatakan lebih secara informal, mengatakan bahwa orang dari status yang lebih rendah tidak boleh mendahului menyentuh orang yang statusnya lebih tinggi, tetapi orang yang statusnya lebih tinggi boleh mendahului menyentuh orang yang statusnya lebih rendah. Aturan lain adalah bahwa kaum wanita boleh saling menyentuh sesamanya di depan umum. Sebagai contoh, mereka boleh saling memegang tangan, berjalan bergandengan tangan, saling berpelukan, dan bahkan berdansa bersama. Kaum pria tidak boleh melakukan ini, setidak‑tidaknya tanpa menghadapi kritik sosial.

8. Metakomunikasi
Perilaku nonverbal seringkali bersifat metakomunikasi. Contoh yang jelas adalah menyilangkan jari di balik punggung bila berdusta. Bila membuat pernyataan dan mengedipkan mata, kedipan mata ini mengomentari pernyataan verbal itu. Pada hari pertama kuliah, dosen masuk ke kelas dan mengatakan sesuatu yang memberitahu bahwa ia adalah dosen untuk mata kuliah ini. la mulai menjelaskan bagaimana kuliah akan diselenggarakan, apa yang menjadi persyaratan, dan apa tujuannya. Tetapi, perhatikanlah bahwa banyak metakomunikasi juga berlangsung. Busana yang dikenakan dosen dan bagaimana ia mengenakannya, panjang dan gaya rambutnya, penampilan fisiknya secara umum, caranya berjalan, serta nada suaranya semua berkomunikasi tentang komunikasi, selain juga tentu saja, mengkomunikasikan dirinya sendiri. Berdasarkan petunjuk‑petunjuk ini, para mahasiswa akan sampai pada berbagai kesimpulan. Mereka mungkin menyimpulkan bahwa kelas ini akan menyenangkan, atau membosankan, atau terlalu tinggi, atau tidak relevan.

Baca Juga :