Sejarah Perkembangan Masyarakat Madani Lengkap

Sejarah Perkembangan Masyarakat Madani

  • July 30, 2019

Sejarah Perkembangan Masyarakat Madani Lengkap

Sejarah Perkembangan Masyarakat Madani Lengkap

Sejarah Masyarakat Madani

Di bawah ini akan kami hadirkan penjelasan singkat mengenai sejarah perkembangan konsep masyarakat madani. Jika ditarik kebelakang, konsep masyarakat madani sudah ada pada zaman aristoteles. Wow banget kan? Nah bagi yag belum tahu, yu baca penjelasanan singkatnya berikut! | Dosen PPKn

Konsep masyarakat madani sebenarnya sudah ada sejak zaman dulu kala. Kosep ini berasal dari perjuangan politik sertan sejarah masyarakat Eropa Barat yang menjalani proses peralihan atau pergantian dari pola kehidupan feodal ke kehidupan masyarakat industri yang kapitalis. Konsep masyarakat madani, jika dipelajari, sudah ada sejak zaman Yunani kuno. Jika dicari akar sejarahnya, perkembangan konsep masyarakat madani sudah ada sejak zaman Aristoteles yaitu sekitara tahun 384-322 SM. Pada saat itu, masyarakat madani dipahami sebagai suatu sistem negara dengan menggunakan istilah ‘koinoniah politike’, sebuah komunitas politik dimana warga masyarakat dapat terlibat langsung dalam berbagai konteks politik dan pengambilan keputusan. Istilah ini juga digunakan untuk menjelaskan masyarakat politik serta etika di mana warga atau masyarakat di dalamnya setara di depan hukum.

Sejarah Masyarakat Madani

Perkembangan Masyarakat Madani, Konsep Masyarakat Madani, Sejarah Singkat Masyarakat Madani, Pengertian Masyarakat Madani, Karakteristik Masyarakat Madani, Masyarakat Madani dalam Islam, Konsep Masyarakat Madani,

Sejarah Perkembangan Masyarakat Madani

Konsepsi dasar yang digambarkan oleh Aristoteles diikuti dan dikembangkan oleh Marcus Tullius Cicero pada tahun 106-43 SM dengan istilah ‘Societies Civilies’ yang dapat diartikan sebagai sebuah komunitas yang mendominasi komunitas lain. Istilah yang dikemukakan oleh Cicero tersebut lebih mengarah pada konsep sebuah negara kota (City State), yaitu untuk menggambarkan kerajaan, kota, dan bentuk korporasi lainnya, sebagai kesatuan yang terorganisir. Konsep yang sama juga dikembangkan oleh Thomas Hobbes pada tahun 1588-1679 M dan Jhone Locke pada tahun 1632-1704 M. Selanjutnya, di Prancis muncul John Jack Rousseau, yang akrab dengan bukunya The Social Contract pada tahun 1762. Dalam buku J.J. Rousseau berbicara tentang pemikiran otoritas rakyat, dan kesepakatan politik yang harus dilakukan antara manusia dan kekuasaan.

Pada tahun 1767

konsep masyarakat madani dikembangkan kembali oleh Adam Ferguson dengan mengambil konteks sosio-kultural serta politik di Skotlandia. Ferguson menggarisbawahi bahwa masyarakat madani merupakan visi etis dalam kehidupan masyarakat. Pemahaman tentang konsep masyarakat madani tersebut dipakai guna mengantisipasi perubahan sosial sebagai akibat dari revolusi industri dan munculnya kapitlisme serta perbedaan mencolok antara masyarakat dan individu. Karena dengan konsep ini sikap solidaritas, saling mencintai serta saling percaya akan muncul antar warga secara alami.

Setelahnya yaitu di tahun 1792

Muncul lagi konsep masyarakat madani yang mempunyai aksentuasi yang berbeda dengan sebelumya. Konsep masyarakat madani yang ini dikemukakan oleh Thomas Paine yang menggunakan istilah civil society sebagai kelompok orang yang memiliki posisi diametral dengan negara, bahkan dianggap sebagai antitesis negara. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa masyarakat sipil menurut Paine merupakan ruang di mana warga negara bisa mengembangkan kepribadian serta memberikan kesempatan untuk memuaskan kepentingan mereka secara bebas dan tanpa paksaan.

Perkembangan konsep masyarakat madani dikembangkan lebih lanjut oleh G.W.F Hegel pada tahun 1770-1831 M, Karl Mark pada tahun 1818-1883 M serta Antonio Gramsci pada tahun 1891-1837 M. konsep tentang masyarakat madani yang dikembangkan oleh ketiga tokoh tersebut diatas menggarisbawahi tentang masyarakat sipil sebagai elemen kelas ideologi yang dominan. Pemahaman tersebut lebih mengarah kepada suatu reaksi terhadap model pemahaman yang dibuat oleh paine (yang menganggap masyarakat sipil sebagai bagian terpisah dari negara).

Setelahnya, konsep masyarakat madani juga dikembangkan oleh Alexis de ‘Tocqueville pada tahun 1805-1859 M didasarkan pada pengalaman demokrasi yang terjadi di Amerika, dengan mengembangkan teori masyarakat madani sebagai intensitas pengembangan kekuasaan. Bagi de ‘Tocqueville, kekuatan politik dan masyarakat madani yang membuat demokrasi di Amerika memiliki daya tahan. Dengan terwujudnya pluralitas, independensi dan kapasitas politik masyarakat madani, warga negara akan dapat menyeimbangkan dan mengendalikan kekuasaan negara.

Di Indonesia, masyarakat madani sebagai terjemahan civil society pertama kali diperkenalkan oleh Anwar Ibrahim, Menteri Keuangan dan Perdana Menteri Malaysia saat itu, pada pidato Simposium Nasional dalam rangka Forum Ilmiah di Festival Istiqlal, 26 September 1995 di Jakarta. Istilah ‘masyarakat madani’ diterjemahkan dari bahasa Arab mujtama yaitu ‘madani’, yang diperkenalkan oleh prof. Naquib Attas, seorang sejarawan dan peradaban Islam asal Malaysia, pendiri ISTAC. Kata “madani” dapat diartikan sebagai sipil atau beradab. Madani juga berarti peradaban, seperti kata-kata Arab lainnya seperti hadlari, tsaqafi atau tamaddun. Konsep masyarakat madani untuk orang-orang Arab mengacu pada hal-hal ideal dalam kehidupan. Konsep masyarakat madani itu universal dan membutuhkan adaptasi yang harus diwujudkan di Negara Indonesia mengingat konsep dasar masyarakat yang tidak memiliki latar belakang yang sama dengan kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia.

Konsep Civil Society

Konsep Civil Society sangat baru di kalangan masyarakat Indonesia sehingga dibutuhkan proses dalam perkembangannya. Ini bukan hal yang mudah, karena itu memerlukan langkah-langkah yang efektif, sistematis, dan berkesinambungan untuk mengubah paradigma dan pemikiran masyarakat Indonesia.

Artikel terkait :